Pages

Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

PERILAKU KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA



DEFINISI PERILAKU
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud dengan perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2003).
Perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai kejiwaan, seperti pengetahuan, keinginan, minat, emosi, kehendak, berfikir, motivasi, persepsi, sikap, reaksi dan sebagainya (Azwar S.,2005).
Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar, yang merupakan refleksi kejiwaan untuk memberikan respon terhadap situasi di luar dirinya.
Menurut Notoatmodjo (2003) perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:
1.   Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (Health Maintenance)
Perilaku pemeliharaan kesehatan adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek:

a.   Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
b.   Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. Perlu dijelaskan di sini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang yang sehatpun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.
c.   Perilaku gizi (makanan dan minuman). Makanan dan minuman dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan dapat mendatangkan penyakit. Hal ini sangat tergantung pada perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut.
2.   Perilaku Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Perilaku ini sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior) yang menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mecari pengobatan keluar negeri.
3.   Perilaku Kesehatan Lingkungan
Perilaku kesehatan lingkungan adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya (Notoatmodjo, 2003). Becker (1979) dalam Notoatmodjo (2007) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan, yaitu :
a.   Perilaku hidup sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya.
b.   Perilaku sakit (illness behavior).
Perilaku sakit ini mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit, dan sebagainya.
c.   Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
Dari segi sosiologi, orang sakit (pasien) mempunyai peran, yang mencakup hak-hak orang sakit (right) dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation).
Hak dan kewajiban ini harus diketahui oleh orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama keluarganya), yang selanjutnya disebut perilaku peran orang sakit (the sick role).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat atau individu, yaitu :
a.   Faktor dasar (predisposing factor), mencakup pengetahuan, sikap, kebiasaan, kepercayaan, norma sosial dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu di dalam masyarakat yang terwujud dalam motivasi;
b.   Faktor pendukung (enabling factor), mencakup sumber daya atau potensi masyarakat, terwujud dalam tersedianya alat dan fasilitas serta peraturan;
c.   Faktor pendorong (reinforcing factor), mencakup sikap dan perilaku dari orang lain yang terwujud dalam dukungan sosial. (Green, 2000)







PERILAKU KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA
Perilaku kesehatan manuasia atau individu dipengaruhi oleh faktor dasar yaitu faktor yang menjelaskan alasan atau motivasi seseorang untuk berperilaku, faktor pendukung adalah faktor yang merupakan pendukung untuk berperilaku dan faktor pendorong yaitu faktor lingkungan yang dominan dalam pembentukan perilaku. Tenaga kerja yang berperilaku sehat akan menghidari risiko terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman, dan tujuan akhirnya adalah mencapai produktivitas setinggi-tingginya. Maka dari itu K3 mutlak untuk dilaksanakan pada setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali. Upaya K3 diharapkan dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat melakukan pekerjaan.
Dalam pelaksanaan K3 sangat dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu manusia, bahan, dan metode yang digunakan, yang artinya ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mencapai penerapan K3 yang efektif dan efisien. Sebagai bagian dari iImu Kesehatan Kerja, penerapan K3 dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu adanya organisasi kerja, administrasi K3, pendidikan dan pelatihan, penerapan prosedur dan peraturan di tempat kerja, dan pengendalian lingkungan kerja. Dalam Ilmu Kesehatan Kerja, faktor lingkungan kerja merupakan salah satu faktor terbesar dalam mempengaruhi kesehatan pekerja, namun demikian tidak bisa meninggalkan faktor lainnya yaitu perilaku. Perilaku seseorang dalam melaksanakan dan menerapkan K3 sangat berpengaruh terhadap efisiensi dan efektivitas keberhasilan K3.
Menurut ILO, kecelakaan kerja 88% karena perilaku yang tidak aman, 10% karena kondisi/lingkungan yang tidak aman dan 2% karena keadaan yang tidak dapat diprediksikan.
Menurut pandangan dan keyakinan tradisionil, kecelakaan kerja terjadi karena nasib, sedang naas, sial, kurang beruntung dan lain-lain, kecelakaan kerja tidak terjadi pada dirinya sehingga tidak perlu ada rencana untuk mencegahnya, dan tidak setiap tindakan beresiko (unsafe act) akan menyebabkan kecelakaan kerja. Akibat dari pandangan tersebut, mereka enggan dan malas berlatih untuk berperilaku selamat (safe behavior), enggan membiasakan diri berperilaku selamat dan akhirnya resiko kecelakaan menjadi meningkat.
Berbeda dengan pandangan dan keyakinan ilmu perilaku, bahwa kecelakaan kerja adalah peristiwa yang rasional dan dapat dijelaskan,  merupakan rangkaian peristiwa  yang tidak  berdiri  sendiri, sehingga langkah  atau  tindakan  harus  diambil  agar  kecelakaan kerja dapat  dicegah dan peluangnya  akan  lebih  besar  jika  tindakan  korektif (latihan dan membiasakan diri)  tidak  dilakukan.
Ada 3 faktor (safety  triad) yang dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja, yaitu: faktor  kepribadian  (person  factor), faktor  lingkungan  atau  kondisi  kerja  (environment  factor), dan faktor  perilaku  atau  tindakan  (behavior  factor).
Faktor kepribadian (personality) :
1.      Apakah  orang  tersebut  mengetahui  bahaya  dari  pekerjaan atau tindakannya?
2.      Apakah  ia  mengetahui  apa  yang  seharusnya  dilakukan?
3.      Mampukah  ia  melakukannya?
4.      Bagaimanakah perasaannya ketika melakukannya? (sulit, mudah, dengan  terpaksa dll)
Faktor ini tergantung kepada: tingkat pendidikan, pengetahuan, pengalaman, lingkungan sosial hidupnya, dan lain-lain. Hal ini sulit diungkap secara keseluruhan karena terletak di dalam diri seseorang.
Faktor lingkungan atau kondisi kerja :
Contoh  dari  faktor  ini  adalah  adanya  tumpahan  minyak,  air,  atau  cairan  kimia  di  lantai  kerja,  APD  ,  efektifitas  dari  alat  pelindung  mesin  dan  sebagainya. Kondisi  lingkungan  atau  kondisi kerja merupakan faktor  yang  mudah  diketahui,  oleh  karena  itu orang lebih sering dan senang untuk  menyalahkan  kondisi  yang  tidak  aman.
Faktor perilaku (tindakan) :
Faktor  ini  menekankan  kepada  apa  yang  sesungguhnya  telah  dilakukan dan bukan  kepada  apa  yang  diinginkan  untuk  dilakukan.
Contoh: memakai helm, menerobos lampu merah, dll
Dari ketiga faktor di atas, ternyata penyebab kecelakaan kerja didominasi oleh faktor perilaku/tindakan (behavior factor), misalnya : dari data I.L.O (1989)  mengungkapkan  dari  75.000  kasus  kecelakaan  88%  disebabkan  tindakan tidak  aman,  10%  oleh  kondisi  tidak  aman  dan  2% kejadian yang tak dapat diprediksi, Strasser  (1981:83) membuktikan  bahwa ” unsafe  behavior  is  contributing  cause  of  85  %  of  all  accident”, penelitian  Hidayat  (1999:3) di jalan tol dari tahun 1992 sampai tahun 1996  menyimpulkan  bahwa  dari  2101  kasus  kecelakaan  yang  terjadi  di  jalan tol 64,8 % adalah  faktor  pengemudi.
Dari beberapa hal yang diungkapkan diatas, maka perilaku K3 harus terus dilatih agar menjadi suatu kebiasaan (safe behavior). Proses latihan perilaku K3 dapat dilakukan melalui tahapan:
1.      Observation (pengamatan)
2.      Feedback (umpan balik)
3.      Reinforcement (penguatan)
4.      Behavior change (perubahan perilaku)
Observation (Pengamatan)
Observation, menga-mati dan memonitor perilaku pekerja dan  mengidentifikasikan  (mengenali)  manakah  perilaku  selamat  dan  manakah  perilaku  tidak  selamat.
Feedback (Umpan Balik)
Feedback,  memberikan  umpan  balik.  Katakan  kepada  pekerja  anda  apakah  ia  melakukan  tindakan  selamat  atau  tidak  selamat. Umpan  balik yang tepat merupakan pemicu kepada  pekerja  untuk  meneruskan   atau  merubah  perilakunya
Reinforcement (penguatan)
Reinforcement  (penguatan),  pemberian  suatu  penguatan yang  positif  sesudah  pekerja  anda  melakukan  tindakan  selamat  dapat  mendorong  pekerja  tersebut  melakukan  lagi  tindakan tersebut.
Contohnya :    "Saya  lihat  anda  memakai  kacamata  pelindung  dengan  baik  hari  ini.  Itu  merupakan  perilaku  yang  selamat.  Saya  senang  melihat  hal  itu".

Behavior Change (Perubahan Perilaku)
Behavior  change  (perubahan  perilaku),  perubahan  ini  terjadi  hanya  bila  selalu  dilakukan  penguatan  ke  arah  "safe  behavior",  ini  merupakan  tujuan  dari  ketiga  proses  sebelumnya.
PENDEKATAN PERSUASIF DALAM PERILAKU K3
Melihat prioritas utama dalam menangani kecelakaan kerja adalah manusia, maka usaha yang paling tepat dilakukan adalah bagaimana membuat manusia berdisiplin dan sadar akan bahaya kecelakaan.
Untuk  mengetahui perilaku manusia dalam bekerja maka perlu dilakukan analisa psikologi. Analisa yang dilakukan dengan melihat pekerja dalam bekerja dari segi pikiran, perasaan dan tidakan yang merupakan pembentuk perilaku.

Pembangkitan sisi pikiran pekerja
Faktor pikiran berisi tentang keyakinan seseoarang mengenai apa yang berlaku. Sekali kepercayaan telah terbentuk, maka keyakinan tersebut akan menjadi dasar pertimbangan seseorang mengenai perbuatan yang akan dilakukan. Keyakinan sendiri terbentuk dari informasi yang didapat seseorang. Bisa saja pekerja berperilaku tidak aman karena tidak mengerti bagaimana cara berperilaku aman. Oleh karena itu dalam komponen ini direncanakan program untuk meningkatkan pengetahuan pekerja tentang keselamatan kerja, yaitu dengan pelatihan singkat, simulasi, dan workshop sesuai analisa kebutuhan pelatihan.

Pembangkitan sisi perasaan pekerja
Usaha selanjutnya dalam pendekatan persuasi dalam peningkatan keselamatan kerja adalah berusaha mengubah reaksi emosional pekerja. Faktor yang paling berperan disini adalah pembangkitan sisi perasaan dari pekerja untuk berperilaku disiplin dalam bekerja.
Pada dasarnya pekerja tahu cara berperilaku yang aman, namun karena berbagai hal seperti menghemat waktu, menghemat usaha, merasa lebih nyaman, dan menarik perhatian membuat pekerja menomorduakan keselamatan. Untuk mengubah pemahaman pekerja ini diperlukan program-program antara lain :
a.       Kampanye dan Sosialisasi Keselamatan Kerja
b.      Publikasi Data Kecelakaan Kerja



Pembangkitan Sisi Tindakan
Yaitu perilaku atau kebiasaan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek lain yang ada disekitar lingkungannya. Ketika lingkungan sekitarnya tidak nyaman atau mendorong kearah negatif (negatif reonforcement) maka kecenderungan perilaku manusia tersebut juga ke arah negatif. Jadi untuk mempengaruhi perilaku seseorang juga harus merubah lingkungan fisiknya.
Perilaku tidak aman juga sering dipicu oleh adanya pengawas atau manajemen yang tidak peduli dengan keselamatan kerja. Pihak manajemen ini secara tidak langsung memotivasi para pekerja untuk mengambil jalan pintas, mengabaikan bahwa perilakunya berbahaya demi kepentingan tercapainya target produksi.
Perilaku tidak aman juga bisa dipicu oleh tidak tersedianya Alat Pelindung Diri di lokasi kerja. Karena tuntutan deadline pekerjaan, sehingga tanpa alat pelindung diri pekerja terpaksa melakukan pekerjaan yang berpotensi bahaya. Jika hal ini dibiarkan maka akan menjadi kebiasaan dalam bekerja.
Memberikan Reward terhadap pekerja yang selalu berperilaku aman dan sebaliknya Punishment di berikan kepada pekerja yang berperilaku tidak aman.

MAKALAH KANKER PROSTATE


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Kanker merupakan suatu penyakit sel yang ditandai dengan hilangnya fungsi kontrol sel terhadap regulasi daur sel pada organisme multiseluler. Penyebab penyakit ini diduga karena peningkatan industri, perubahan pola makan maupun gaya hidup. Kanker juga merupakan penyakit yang paling ditakuti karena disamping biaya pengobatan yang sangat mahal, penyakit ini selalu mengakibatkan penderitaan bahkan kematian bagi orang yang menderitanya.
Penyakit kanker dapat menyerang semua tingkatan sosial dalam masyarakat dan semua umur. Kanker telah menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Insidennya semakin meningkat. Di dunia, diperkirakan 7,6 juta orang meninggal akibat kanker pada tahun 2005 (WHO,2005) dan 84 juta orang akan meninggal hingga 10 tahun ke depan. Kanker merupakan penyebab kematian no.6 di Indonesia (depkes,2003), dan diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk per tahunnya. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi angka kejadian kanker antara lain faktor geografis (misal kanker serviks lebih banyak di negara asia), suku bangsa, variasi genetik, jenis kelamin (misal kanker payudara lebih banyak pada wanita), dan pengaruh lingkungan (makanan, pola hidup).
Padahal sebenarnya banyak kematian akibat kanker dapat dihindari.
Menurut WHO, lebih dari 40% dari semua kanker dapat dicegah, selebihnya dengan deteksi dini dan terapi yang tepat bahkan bisa disembuhkan. Kalaupun dalam stadium lanjut penderitaan pasien dapat dikurangi dengan perawatan dan pengobatan yang baik. Dari SUSENAS (Sensus Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2004 diketahui sekitar 30% masyarakat kita memilih mengobati diri sendiri dengan obat tradisional lokal maupun impor. Karena kurangnya pengetahuan pasien kanker sering kali tidak mengerti cara menilai efektif tidaknya suatu obat yang digunakan dan terbawa iklan mengonsumsi obat selama berbulan-bulan tanpa evaluasi. Akibatnya kebanyakan penderita akhirnya mencari bantuan ke dokter atau terapis ahli lainnya sudah dalam stadium lanjut.
Disamping itu salah satu masalah yang mempersulit upaya pengobatan  penyakit kanker adalah kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakat yang  masih kurang disertai dengan tingkat pendidikan dan faktor lingkungan  masyarakat yang kurang mendukung. Deteksi dini penyakit kanker masih belum banyak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, karena selain ketidaktahuan, ketidakpedulian, dan ketidakmampuan finansial, banyak masyarakat yang takut menghadapi kenyataan.

B.     Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang di atas maka penulis mengidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :
a)         Definisi  Kanker Prostat
b)        Etiologi Penyakit Kanker Prostat
c)         Gejala Penyakit Kanker Prostat
d)        Epidemiologi Penyakit Kanker Prostat
e)         Pencegahan / Penanggulangan Kanker Prostat

C.    Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
a)         Untuk mengetahui perkembangan Kanker Prostat
b)        Untuk mengetahui siapa saja yang rentan terkena Kanker Prostat
c)         Untuk mengetahui pencegahan Kanker Prostat

D.    Manfaat
Sebagai informasi bagi kita agar waspada dalam upaya pencegahan penyakit kanker






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kanker Prostat
Kanker prostat adalah bentuk kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi laki-laki. kanker prostat Kebanyakan lambat berkembang, namun terdapat kasus kanker prostat agresif. Sel-sel kanker dapat metastasis (menyebar) dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan kelenjar getah bening. kanker prostat dapat menyebabkan rasa sakit, kesulitan buang air kecil, masalah selama hubungan seksual, atau disfungsi ereksi. Gejala lain yang berpotensi dapat mengembangkan selama stadium penyakit.
Harga deteksi kanker prostat sangat bervariasi di seluruh dunia, dengan Asia Selatan dan Timur deteksi lebih jarang daripada di Eropa, dan khususnya Amerika Serikat. Kanker prostat cenderung untuk mengembangkan pada pria berusia lebih dari lima puluh dan meskipun ini adalah salah satu jenis kanker yang paling umum pada laki-laki, banyak yang tidak pernah mengalami gejala, menjalani terapi tidak, dan akhirnya meninggal karena penyebab lainnya.
Hal ini karena kanker prostat adalah, dalam banyak kasus, lambat berkembang, gejala-bebas, dan karena laki-laki dengan kondisi yang lebih tua mereka sering mati karena sebab-sebab yang tidak terkait dengan kanker prostat, seperti jantung / penyakit peredaran darah, pneumonia, lainnya tidak terkait kanker, atau usia tua. Sekitar 2 / 3 dari kasus lambat tumbuh "kucing", yang lain ketiga lebih agresif, cepat berkembang secara informal dikenal sebagai "macan".
Kelenjar Prostat
Prostat adalah suatu kelenjar eksokrin dari sistem reproduksi pria. Fungsi utamanya adalah untuk menyimpan dan mensekresi cairan bersih yang terdiri dari sepertiga volume semen. 
·           Prostat sehat berukuran sedikit lebih besar dari buah kenari
·           Ia terletak di bagian depan anus, tepat di bawah kandung kemih tempat urin ditampung, dan mengelilingi saluran kemih (uretra) yang mengeluarkan air kemih dari dalam tubuh
·           Kelenjar tersebut berperan sebagai bagian dari sistem reproduksi pria dengan memproduksi cairan putih yang mengandung sperma
·           Prostat juga terdiri dari otot polos yang membantu mengeluarkan sperma sewaktu ejakulasi; dengan demikian, masalah prostat dapat menyebabkan impotensi.
Kelenjar prostat memiliki empat wilayah kelenjar yang berbeda:
a)      Zone Periferal (ZP) - Bagian sub-kapsular dari aspek posterior kelenjar prostat yang mengitari uretra distal dan meliputi hingga 70% kelenjar prostat normal pada lelaki muda. Dari bagian kelenjar inilah lebih dari 70% penyakit kanker prostat berasal.
b)      Zona Sentral (ZS) - Zona ini terdiri dari sekitar 25% kelenjar prostat normal dan mengitari saluran-saluran ejakulasi. Tumor-tumor Zona Sentral bertanggung jawab terhadap lebih dari 25% penyakit kanker prostat seluruhnya.
c)      Zona Transisi (ZT) - Zona ini bertanggung jawab terhadap 5% volume prostat dan sangat jarang terkait dengan karsinoma. Zona Transisi mengitari uretra proksimal dan merupakan wilayah kelenjar prostat yang bertumbuh sepanjang hidup Anda. Zona ini terlibat dalam pembesaran prostat jinak.
d)     Zona Jaringan-Otot Anterior- Zona ini bertanggung jawab atas sekitar 5% berat prostat, biasanya tanpa komponen kelenjar, dan hanya terdiri dari, sebagaimana namanya, otot dan jaringan (fibrosa).

Ø  Gangguan Prostat
Tiga macam gangguan dapat terjadi dalam kelenjar prostat: peradangan atau infeksi (prostatitis), pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia - BPH), dan kanker.
a)         Prostatitis merupakan istilah klinis untuk menjelaskan luasnya spektrum gangguan yang merentang dari infeksi bakteri hingga sindrom-sindrom nyeri kronis. Hal ini tidak menular (umumnya tidak menular melalui hubungan seks)
b)        Prostatitis Bakterial Akut merupakan gangguan yang kurang lazim namun mudah didiagnosa dan diobati. Penyebabnya adalah bakteri dan muncul tiba-tiba disertai menggigil dan demam, nyeri di bawah punggung dan daerah alat kelamin, dan rasa terbakar atau nyeri ketika berkemih. Indikasi-indikasi lainnya adalah kelebihan sel darah putih dan bakteri di dalam urin.
c)         Prostatitis (Non bakterial) Kronis (sindroma nyeri panggul kronis) merupakan bentuk prostatitis yang paling lazim, namun kurang dipahami. Ditemukan pada pria mulai dari akhir umur belasan, gejala-gejalanya menghilang lalu kembali muncul tanpa tanda, dan bisa saja berupa inflamasi atau non inflamasi. Dalam bentuk inflamasi, urin, semen, dan cairan lainnya dari prostat tidak menunjukkan bukti adanya suatu organisme penyebab infeksi yang telah dikenal, tetapi memang mengandung jenis-jenis sel yang biasanya dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi. Dalam bentuk non-inflamasi, tidak terdapat bukti peradangan, termasuk adanya sel-sel yang melawan infeksi.
d)        Prostatitis inflamasi asimtomatik adalah diagnosis berupa tidak adanya gejala-gejala, namun di dalam sperma pasien terdapat sel-sel yang melawan infeksi. Hal ini sering ditemukan ketika dokter sedang mencari penyebab ketidaksuburan atau sedang melakukan pengujian kanker prostat.

2.        BPH  ( benign prostatic hyperplasia )
Merupakan masalah lazim ke dua yang dapat terjadi di dalam prostat. "Benign / Jinak" berarti "bukan kanker" dan  "hyperplasia" berarti "pertumbuhan berlebih atau pembesaran."  Dengan bertambahnya usia pria, kelenjar prostat perlahan-lahan membesar. Kelenjar tersebut cenderung meluas di daerah yang tidak ikut membesar bersamanya, menyebabkan tekanan pada saluran kemih, yang dapat menyebabkan masalah berkemih.
Desakan untuk sering berkemih, aliran kemih yang lemah, aliran kemih terputus-putus dan menetes, seluruhnya merupakan gejala pembesaran prostat. Paling buruk, BPH dapat menyebabkan kandung kemih lemah, atau infeksi ginjal, sumbatan total aliran air kemih, dan gagal ginjal.

Merupakan salah satu penyakit kanker yang paling lazim pada pria Amerika. Tidak ada tanda-tanda peringatan dini gejala kanker prostat. Setelah tumor ganas menyebabkan kelenjar prostat membengkak secara signifikan, atau setelah kanker menyebar luas melampaui prostat, gejala-gejala berikut ini mungkin akan muncul:
  • Kebutuhan untuk sering berkemih, terutama pada malam hari
  • Kesulitan memulai atau menghentikan aliran kemih
  • Pancaran air kemih lemah atau terputus-putus
  • Sensasi nyeri atau terbakar pada saat berkemih atau ejakulasi
  • Ada darah dalam air kemih atau sperma
B.     Etiologi Penyakit Kanker Prostat
Penyebabnya tidak diketahui, meskipun beberapa penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara diet tinggi lemak dan peningkatan kadar hormon testosteron. Kanker prostat merupakan penyebab kematian akibat kanker no 3 pada pria dan merupakan penyebab utama kematin akibat kanker pada pria diatas 74 tahun. Kanker prostat jarang ditemukan pada pria berusia kurang dari 40 tahun. Pria yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker prostat adalah pria kulit hitam yang berusia diatas 60 tahun, petani, pelukis dan pemaparan kadmium. Angka kejadian terendah ditemukan pada pria Jepang dan vegetarian.
Kanker prostat dikelompokkan menjadi
1)        Stadium A
benjolan/tumor tidak dapat diraba pada pemeriksaan fisik, biasanya ditemukan secara tidak sengaja setelah pembedahan prostat karena penyakit lain.
2)        Stadium B
tumor terbatas pada prostat dan biasanya ditemukan pada pemeriksaan fisik atau tes PSA.
3)        Stadium C
tumor telah menyebar ke luar dari kapsul prostat, tetapi belum sampai menyebar ke kelenjar getah bening.
4)        Stadium D
kanker telah menyebar (metastase) ke kelenjar getah bening regional maupun bagian tubuh lainnya (misalnya tulang dan paru-paru).
Penyebab yang pasti belum diketahui, tetapi ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker prostat yaitu usia dan riwayat keluarga. Hormon, diet tinggi lemak dan toksin juga disebutkan sebagai faktor risiko kanker prostat walaupun kaitannya belum jelas.

C.    Gejala Penyakit Kanker Prostat
Biasanya kanker prostat berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan gejala sampai kanker telah mencapai stadium lanjut. Kadang gejalanya menyerupai BPH, yaitu berupa kesulitan dalam berkemih dan sering berkemih. Gejala tersebut timbul karena kanker menyebabkan penyumbatan parsial pada aliran air kemih melalui uretra.
Kanker prostat bisa menyebabkan air kemih berwarna merah (karena mengandung darah) atau menyebabkan terjadinya penahanan air kemih mendadak. Pada beberapa kasus, kanker prostat baru terdiagnosis setelah menyebar ke tulang (terutama tulang panggul, iga dan tulang belakang) atau ke ginjal (menyebabkan gagal ginjal). Kanker tulang menimbulkan nyeri dan tulang menjadi rapuh sehingga mudah mengalami fraktur (patah tulang).
Setelah kanker menyebar, biasanya penderita akan mengalami anemia.
Kanker prostat juga bisa menyebar ke otak dan menyebabkan kejang serta gejala mental atau neurologis lainnya.
Ø  Gejala-Gejala Kanker Prostat
a)      Sulit berkemih
Bisa berupa perasaan ingin berkemih tapi tidak ada yang keluar, berhenti saat sedang berkemih, ada perasaan masih ingin berkemih atau harus sering ke toilet untuk berkemih karena keluarnya sedikit–sedikit. Gejala ini akibat  membesarnya kelenjar prostat yang ada di sekitar saluran kemih karena ada tumor di dalamnya sehingga mengganggu proses berkemih.
b)      Nyeri saat berkemih
Problem ini juga disebabkan adanya tumor prostat yang menekan saluran kemih. Namun, nyeri ini juga bisa merupakan gejala infeksi prostat yang disebut prostatitis. Bisa juga tanda hiperplasia prostat yang bukan merupakan kanker.
c)      Keluar darah saat berkemih
Gejala ini jarang terjadi, namun jangan diabaikan. Segeralah periksa ke dokter meski darah yang dikeluarkan hanya sedikit, samar–samar atau hanya berwarna merah muda. Kadangkala infeksi saluran kemih juga bisa menyebabkan gejala ini.
d)     Sulit ereksi atau menahan ereksi
Tumor prostat bisa saja menyebabkan aliran darah ke penis yang seharusnya meningkat saat terjadinya ereksi menjadi terhalang sehingga susah ereksi. Bisa juga menyebabkan tidak bisa ejakulasi setelah ereksi. Tapi, pembesaran prostat bisa saja menyebabkan munculnya gejala ini.
e)      Sulit Buang Air Besar
Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan di depan rektum. Akibatnya, bila ada tumor, pencernaan akan terganggu. Namun perlu diingat, sulit BAB yang terus menerus terjadi juga bisa menyebabkan pembesaran prostat karena terjadi tekanan pada kelenjar secara terus menerus. Sulitnya BAB dan gangguan saluran pencernaan bisa juga mengindikasikan kanker usus besar.
f)       Nyeri terus menerus
Di punggung bawah, panggul atau paha dalam bagian atas.
Sering kali, kanker prostat menyebar di wilayah-wilayah ini, yaitu pada punggung bawah,  panggul dan pinggul sehingga nyeri yang sulit dijelaskan di bagian ini bisa menjadi tanda adanya gangguan.
g)      Sering berkemih di malam hari
Jika Anda sering terbangun di malam hari lebih dari sekali hanya untuk berkemih, periksalah segera ke dokter.
h)      Urin yang menetes atau tidak cukup kuat
Gejala ini mirip inkontinensia urin (ngompol). Urin tidak dapat ditahan hingga perlahan keluar dan menetes. Atau kalau pun keluar aliran tidak cukup kuat.

D.    Epidemiologi Penyakit Kanker Prostat
Kanker merupakan suatu penyakit akibat adanya pertumbuhan yang abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang dapat melakukan invasi ke jaringan-jaringan normal atau menyebar ke organ-organ yang jauh. Definisi yang paling sederhana yang dapat diberikan untuk kanker adalah pertumbuhan sel-sel yang kehilangan pengendaliannya. Penyakit kanker dapat diklasifikan menjadi dua bagian, yaitu karsinoma dan retikulosis1 .
Kelenjar prostat , tempat di mana tumbuh kanker, adalah salah satu kelenjar khusus untuk pria, terletak persis di bawah (leher bawah) kandung kemih (vesica urinaria). Prostat mengelilingi bagian atas pertama saluran kemih (urethra). Salah satu peran prostat dalam perkemihan adalah membantu menyalurkan/menyemprotkan urine keluar dari kandung kemih. Peran utamanya yang penting adalah berkaitan dengan fungsi mengeluarkan semen (cairan sperma) dan hormone seksualnya2, dalam hal ini Prostat adalah penghasil sebagian besar cairan di dalam air mani (semen) yang menjaga sperma agar tetap hidup.
Kelenjar prostat mulai berkembang sebelum bayi lahir dan akan terus berkembang hingga mencapai usia dewasa. Perkembangan prostat dipengaruhi oleh hormon seks pria, yaitu androgen. Hormon androgen yang utama adalah testosteron3. Secara umum kanker prostat dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu kanker yang masih terbatas dalam organ prostat (kanker dini) dan yang sudah menyebar keluar prostat baik ke organ sekitar maupun metastasis (penyebaran) jauh (kanker lanjut).
Sebagai umumnya kanker, diagnosis awal sangat dubutuhkan dalam penanggulngan kanker prostat. Sebagai tanda bahaya (Warning sign) kanker prostat adalah : 
·           Sering kali merasa ingin kencing, terutama di malam hari
·           Nyeri atau rasa terbakar (burning) selama miksi
·           Bermasalah sewaktu memulai atau menghentikan kencing, atau kencing lemah
·           Urine (air kencing) berdarah
·           Nyeri saat ejakulasi 
·           Cairan ejakulasi berdarah
·           Gangguan ereksi 
·           Nyeri pinggul atau punggung



Faktor Risiko Kanker Prostat
Pada kanker prostat walaupun belum ditemukan factor penyebab utamanya, tetapi ada beberapa factor risiko yang diyakini sebagai penyebab terjadinya kanker prostat yaitu :
Faktor risiko yang mendapatkan dukungan ilmiah (established risk factors) :
a)        Usia Lanjut
Usia merupakan faktor risiko terbesar kanker prostat. Kanker prostat jarang terjadi pada pria di bawah 40 tahun, namun risiko kanker prostat akan meningkat setelah usia 50 tahun. Dua dari tiga kasus kanker prostat ditemukan pada pria usia 65 tahun. Hal ini disebabkan karena risiko penyakit pada usia lanjut meningkat seiring dengan proses penuaan dan menurunnya berbagai fungsi fisiologis tubuh.
Semakin lanjut usia, risiko terjadinya kanker prostat meningkat secara bermakna. Pria pada usia 50 tahun sekitar 33% memiliki tumor prostat kecil. Sedangkan pada usia 80 tahun sekitar 70% pria dapat dibuktikan secara histopatologi memiliki kanker prostat. Menurut American Cancer Society, pada umumnya, kanker prostat berkembang dengan perlahan.
b)        Hormon Testosterone
Testosteron secara alami memacu pertumbuhan kelenjar prostat. Pria yang menggunakan terapi testosteron, biasanya cenderung mengidap kanker prostat. Banyak dokter menganggap, terapi testosteron akan mempercepat berkembangnya kanker prostat yang awalnya sudah tumbuh. Terapi testosteron jangka panjang pun akan menyebabkan pembesaran kelenjar prostat.
c)        Ras
Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terjadi kanker prostat disbanding ras lain. Namun peningktan risiko ini dianggap tidak independen, tetapi berhubungan dengan factor lain (counfounding factors) yang berhubungan dengan ras. Misalnya ditemukan titer hormone testosterone yang tinggi di kalangan kulit hitam berisiko kanker.
d)       Riwayat keluarga
Bila ada satu anggota keluarga yang mengidap penyakit ini maka risiko meningkat menjadi dua kali bagi yang lain dan bila ada dua anggota keluarga yang menderita penyakit ini maka risiko penyakit ini menjadi 2-5 kali. Faktor ini berhubungan dengan factor genetic oleh karena itu factor ini merupakan factor yang tidak dapat diubah dan dihindari.
Tingginya kanker prostat pada ras tertentu (kaum kulit hitam) membawa kecurigaan adanya peran factor genetic. Salah satu gen yang paling dicurigai penyebab kanker prostat adalah mutasi gen p53. Menurut American Cancer Society, kanker prostat paling jarang di pria Asia dan paling sering terjadi di orang hitam, dan orang Eropa di tengahnya.
e)        Pola makan
Pola makan merupakan changeable risk factor terjadinya kanker prostat. Konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh yang tinggi utamanya lemak hewani akan meningkatkan resiko terkena kanker prostat. Peranan lemak dalam meningkatkan risiko kanker prostat terjadi dengan beberapa mekanisme. Pertama lemak dapat mempengaruhi kadar testosterone, suatu hormone yang diperlukan untuk sel-sel prostat baik jinak maupun ganas.
Pria yang mengkonsumsi sedikit lemak akan mempunyai kadar hormone testosterone yang relative rendah. Kedua, lemak adalah sumber radikal bebas, dan yang ketiga adalah hasil metabolisme asam lemak diduga merupakan zat karsinogenik, contohnya adalah asam lemak tidak jenuh omega-6 yang dapat memacu pertumbuhan sel kanker prostat.
f)         Virus
Jenis retrovirus, dikenal sebagai XMRV diidentikasi kemungkinan sebagai penyebab kanker prostat.
·                Chemoprevention
Berbagai bahan kimiawi obat dan zat lainnya yang diidentifikasi dapat merangsang kanker. Yang tergolong bahan kimia salah satunya adalah logam berat seperti cadmium yang terdapat pada baterai bekas yang memang bisa memicu kanker prostat.
g)        Banyak Duduk
Duduk berjam-jam di belakang meja ternyata meningkatkan risiko kanker prostat. Hal ini didasarkan pada kesimpulan penelitian yang dilakukan ilmuwan di Inggris baru-baru ini. Tim peneliti the university of Athens mencoba menganalisis keterkaitan antara level aktivitas fisik di tempat kerja dan tumbuhnya tumor. Peneliti menganalisis 320 pasien kanker prostat dan dibandingkan dengan kelompok pria sehat. Seluruh partisipan kemudian ditanyai tentang tipikal pekerjaan mereka.
Terungkap, pria yang bekerja sebagai pegawai, guru, atau pekerja kantoran berisiko lebih tinggi ketimbang mereka yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berdiri atau bergerak ke sanakemari seperti buruh pabrik, tukang roti, dan tukang cukur. Setiap pria yang memasuki usia 45 tahun berpeluang mengalami pembesaran kelenjar prostat. Jika pembesaran terjadi secara berlebihan hingga membengkak sebesar buah jeruk, efeknya dapat menekan aliran kemih yang melalui uretra. Kondisi inilah yang disebut BPH5.


E.     Pencegahan / Penanggulangan Penyakit Kanker Prostat
Pencegahan Penyakit Kanker Prostat
Kanker prostat sendiri merupakan salah satu penyakit dengan tingkat keganas yang tidak bisa diragukan lagi. Ada yang menyebutkan kanker prostat sendiri sebagai penyakit utama kematian manusia diatas 74 tahun.
Untuk kita sebagai manusia perlu mengenal lebih dini apa itu penyakit kanker prostatBlogiztic akan mengulas cara ampuh mencegah penyakit kanker prostat sebagai berikut. Adapun gejala penyakit kanker prostat seperti yang sering dialami si penderita terbangun tengah malam untuk hajat membuang air kecil. Dalam sehariannya si penderita kanker prostatbisa membuang hajat 8 kali setiap harinya dan bisa muncul darah pada air seni maupun sperma, disfungsi dan keluhan sakit pada bagian belakang.
Adapun cara ampuh pencegahan penyakit kanker prostat bisa anda dapatkan sekarang juga. Berikut poin-poin yang diperlukan dalam penanganan pencegahan masalah kanker prostatselengkapnya sebagai berikut :
1)      Memperbaiki keadaan kesehatan umum
Menjaga agar berat badan berada pada berat ideal. Jika anda mempunyai penyakit obesitasmaka dianjuran mengatur diet yang seimbang. Disamping memperbaiki keadaan kesehatan ditambhakan untuk melakukn kegiatan olahraga.
2)      Minum banyak air
minuman air sangatlah esensial untuk kesehatan karena membantu mengurangi racun-racun dari dalam tubuh. Konsumsi air yang ideal setiap hari adalah 6 – 8 gelas sehari. Hindari kopi dan teh secara berlebihan.
3)      Mengurangi minuman beralkohol
4)      Memakan makanan yang banyak mengandung likopen, contohnya tomat dan buah bit.
5)      Makanlah makanan yang mengandung asam lemak omega-3 seperti kacang kedelai dan produknya seperti tofu, atau susu kacang kedelai, salmon, tuna dan sarden.
6)      Dianjurkan makan makanan yang mengandung beta karoten seperti wortel
7)      Mengurangi konsumsi daging-dagingan dan lemak berlebihan
8)      Mendapat cukup asupan selenium dan vitamin E
9)  Kurangi stres dan depresi dar sekarang.

Penanggulangan / Pengobatan Penyakit Kanker Prostat
·       Cara pengobatan kanker prostat
Pengobatan yang tepat untuk kanker prostat masih diperdebatkan.
Pilihan pengobatan bervariasi, tergantung kepada stadiumnya:
-          Pada stadium awal bisa digunakan prostatektomi (pengangkatan prostat) dan terapi penyinaran
-          Jika kanker telah menyebar, bisa dilakukan manipulasi hormonal (mengurangi kadar testosteron melalui obat-obatan maupun pengangkatan testis) atau kemoterapi.
·       Pembedahan untuk kanker prostat
-        Prostatektomi radikal (pengangkatan kelenjar prostat)
Seringkali dilakukan pada kanker stadium A dan B. Prosedurnya lama dan biasanya dilakukan dibawah pembiusan total maupun spinal. Sebuah sayatan dibuat di perut maupun daerah perineum dan penderita harus menjalani perawatan rumah sakit selama 5-7 harai.
-        Orkiektomi (pengangkatan testis, pengebirian)
Pengangkatan kedua testis menyebabkan berkurangnya kadar testosteron, tetapi prosedur ini menimbulkan efek fisik dan psikis yang tidak dapat ditolerir oleh penderita.
Orkiektomi adalah pengobatan yang efektif, tidak memerlukan pengobatan ulang, lebih murah dibandingkan dengan obat-obatan dan sesudah menjalani orkiektomi penderita tidak perlu menjalani perawatan rumah sakit. Orkiektomi biasanya dilakukan pada kanker yang telah menyebar.
Terapi penyinaran untuk pengobatan kanker prostat. Terapi penyinaran terutama digunakan untuk mengobati kanker stadium A, B dan C. Biasanya jika resiko pembedahan terlalu tinggi, maka dilakukan terapi penyinaran. Terapi penyinaran terhadap kelenjar prostat bisa dilakukan melalui beberapa cara:
a)    Terapi penyinaran eksterna, dilakukan di rumah sakit tanpa perlu
menjalani rawat inap. Efek sampingnya berupa penurunan nafsu makan, kelelahan, reaksi kulit (misalnya kemerahan dan iritasi), cedera atau luka bakar pada rektum, diare, sistitis (infeksi kandung kemih) dan hematuria. Terapi penyinaran eksterna biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama 6-8 minggu.
b)   Pencangkokan butiran yodium, emas atau iridium radioaktif langsung pada jaringan prostat melalui sayatan kecil.
Keuntungan dari bentuk terapi penyinaran ini adalah bahwa radiasi langsung diarahkan kepada prostat dengan kerusakan jaringan di sekitarnya yang lebih sedikit.
Pengobatan menggunakan obat :
·       Manipulasi hormonal
Tujuannya adalah mengurangi kadar testosteron. Penurunan kadar testosteron seringkali sangat efektif dalam mencegah pertumbuhan dan penyebaran kanker. Manipulasi hormonal terutama digunakan untuk meringankan gejala tanpa menyembuhkan kankernya, yaitu misalnya pada penderita yang kankernya telah menyebar.





BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Asupan kalsium berlebih dalam diet (>2000mg/hari) meningkatkan risiko kanker prostat, khususnya meningkatkan proliferasi sel kanker prostat. Kalsium berperan sebagai  regulator 1,25 dihidroksi vitamin D. Selain itu, kalsium juga berperan sebagai regulator  PTH, kalsium serum yang tinggi akan menurunkan PTH  dalam sirkulasi sehingga  konversi 25(OH) vitamin D menjadi vitamin D aktif dengan bantuan PTH juga menurun. Kedua hal ini menyebabkan penurunan regulasi 1,25 dihidroksi vitamin D, vitamin D aktif yang diduga berperan penting dalam proses karsinogenesis melalui inhibisi pertumbuhan dan proliferasi sel kanker dan metastasis.
Hubungan antara asupan kalsium berlebih dan kanker  prostat menjadi lebih jelas dan relevan dengan melibatkan peran vitamin D aktif sebagai inhibitor pertumbuhan dan  proliferasi sel kanker prostat. Salah satu alternatif untuk menghambat pertumbuhan dan proliferasi sel kanker prostat adalah melalui  intraprostatic conversion dari 25(OH)D  menjadi 1,25(OH)vitamin D tanpa melibatkan kalsium serum yang mengatur konversi di ginjal.

B.     Saran
1)      Perlu informasi dan sosialisasi bagi para usia lanjut untuk mengkonsumsi kalsium dalam jumlah aman.
2)      Perlu penelitian lebih lanjut guna menguak lebih lanjut potensi intraprostatic conversion guna mencegah risiko kanker prostat




DAFTAR PUSTAKA

Ardiana, Naomi. 2007. Diagnosis Kanker Prostat Menggunakan Fuzzy Expert System. Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Brawer, M.K, dan Kirby, R. 1999. Prostate Spesific Antigen, 2nd Edition, Health Press, p.92.

Corwin, Elizabeth. Buku Saku Patofisiologi (Handbook of Pathophysiology). EGC. Jakarta : 2001

Mansjoer, A. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. FKUI: 2000

Price,Sylvia A., Lorraine M. Wilson. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Purnomo, Basuki. Dasar-dasar urologi Edisi kedua. CV. Sagung Seto. Jakarta : 2003

Rindiastuti, Yuyun. 2007. Mekanisme Kalsium dalam Meningkatkan Risiko Kanker Prostat pada Usia Lanjut.

Syamsuhidayat, R. Wim de Jong. Buku ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta : 1997

Tanagho, A. Emil. Mc Anich, Jack W. Smith’s General Urology International Edition. The Mc Graw-Hill Companies, Inc. USA : 2000